Sepertinya istilah “OpenSource” sedang nge-trend, mengalahkan istilah “Jendela“. Hal ini lebih berlaku untuk kalangan muda, kalau tidak salah.
Yang jelas, kata – kata Open membuat saya tertarik. Tetapi setidaknya bukan dalam hal ‘pergaulan’, melainkan dalam hal teknologi. Beberapa waktu belakangan ini saya rajin searching artikel dan hal yang berhubungan dengan OpenSource. Ternyata kenyataan di luar sana cukup mengagetkan.
Sebuah Software maupun OS Open identik dengan Free atau gratis. Hal ini tentunya membuat citarasa dan bentuknya merupakan impelementasi dari pemikiran dan hasrat sang pembuat, bukan berdasarkan kebutuhan publik terlebih lagi pasar. Well, setidaknya menurut saya lho.
Pencarian saya terus berlanjut sampai ke halaman – halaman Blog. Dan ternyata dari situ saya mendapatkan link – link yang menakjubkan. Bagaimana sebuah game yang sangat mirip dengan counterstrike bisa dibuat gratis tis tis : http://www.to-crossfire.net/images/stories/Crossfire/toc_promo4.jpg
Hal ini mulai membuat saya semangat untuk mulai mengkesplorasi OSS (OpenSource Software) yang saya mulai dengan Linux. Tetapi, … sebagaimana orang yang terbiasa menggunakan “Jendela” sebagai operating system utamanya saya menemukan kejanggalan yang seharusnya bukan merupakan kejanggalan. Kejanggalan itu tampak pada tampilan Linux yang tidak “biasa” menurut saya. Sejujurnya menurut saya, hal ini bukanlah kejanggalan karena Linux memang tampil dengan gaya style-nya sendiri. Namun kejanggalan itu ada pada saya yang sudah terpaku dengan model tampilan tertentu sehingga sulit membiasakan diri dengan Linux.
Alhasil, saya kembali search Linux dengan tampilan yang menurut saya sudah biasa. Saya menemukan http://lxp.sourceforge.net dan lain – lainnya.
Ada yang membuat saya mengerutkan dahi, dan mulai merasa agak janggal. Saya merasa senang ketika menemukan link – link alternatif tampilan Linux yang lebih mirip dengan “Jendela” adalah berasal dari Indonesia sendiri. Saya pikir ini hebat sekali. Namun kesulitan itu mulai datang ketika saya mulai mencari Link untuk download. Setelah berputar – putar mencari dengan bantuan om Google, akhirnya saya menemukan juga Link untuk mendapatkan distro Linux bersangkutan. Namun link itu bukan merupakan URL seperti biasanya, melainkan No. telepon dengan tulisan akhir berupa Rp. 250.000,-
He hee, saya bisa “tersenyum” juga akhirnya …
Berbeda dengan beberapa link yang saya sertakan di atas yang memberikan akses full untuk download dan gratis, link ini hanya sekedar menampilkan informasi menggiurkan seperti layaknya sebuah iklan. Yang pada akhirnya menyuruhkan kita untuk membelinya juga. Well, bukan masalah mengeluarkan uang karena ketika digratiskan sekalipun kita tetap mengeluarkan uang setidaknya untuk biaya bandwidth download dan CD kosong. Namun ini lebih seperti tradisi terdahulu yang diprakarsai oleh “Jendela”.
Sepenuhnya saya memahami biaya dan waktu yang dikeluarkan oleh tim pengembang. Namun saya juga berpikir, sebenarnya hanya bagian kulit-nya saja yang banyak dikembangkan oleh penjual distro Linux khusus dari Indonesia tersebut. Selebihnya, core system serta pelengkap itu kebanyakan memang sudah ada.
Ini membuat saya berpikir panjang, bagaimana dengan orang – orang yang membuat Linux ini bisa berjalan sampai sekarang. Misalkan saja game mirip CounterStrike seperti link di atas. Weh,… akhirnya saya bisa berkomentar bahwa orang Indonesia itu sepertinya memang lebih “pelit” dibandingkan orang asing / foreign.
Hal inilah yang akhirnya mempengaruhi moto pada halam ini, bahwa OpenSource harus dilengkapi dengan OpenMind dan OpenHeart agar menjadi suatu kekuatan baru. Mudah – mudahan saya bisa ikut menyumbangkan sesuatu pada dunia dan komunitas OpenSource.
Mungkin akan saya awali dengan belajar membuat Billing Warnet gratis. Ini berdasarkan pengalaman saya membeli beberapa Billing Warnet komersil untuk kebutuhan pelanggan saya sendiri. Suatu saat saya mengalami masalah yang menurut saya sulit dikarenakan keterbatsan pengetahuan saya tentang Linux. Yang mengenaskan itu pada saat saya konfirm ke pembuat software tersebut, jawabannya sangat singkat. “Ikuti saja panduannya pak, instal, dan selesai deh …” Padahal selayaknya orang waras saya juga bertanya seperti itu setelah mencobanya sendiri dan sudah sesuai prosedur. Dijawab seperti itu membuat saya “sakit hati”, karena tidak sedikit uang yang saya keluarkan yang pada akhirnya billing tersebut tidak pernah saya pakai.
Alhasil, menurut analisa saya permasalahan itu sepertinya ada pada aplikasi billing yang masih mature atau belum matang. Perbedaan flavour distro linux terkadang membuat jurang dependencies yang berbeda untuk satu aplikasi yang akan dijalankan pada distro yang berbeda – beda. Hal ini tentunya seharusnya sudah dipikirkan oleh sang pembuat. Bukan maksud saya mengharuskan pembuat billing ini layaknya seorang superman yang bisa tahu dan membuat software yang benar – benar multi distro. Setidaknya mereka siap ketika ada pertanyaan bahkan komplain dari customer mengenai billing yang telah dibeli dengan memberikan respon dan support yang lebih bersahabat.
Well, saya tidak mau menghabiskan waktu untuk berdebat. Apalagi saya juga tidak mau menghabiskan waktu untuk men-debug dan mencari kesalahan serta penyelesaiannya sendiri untuk billing yang telah saya beli dengan mahal. Itu adalah urusan sang pembuat dan saya seharusnya merasa “tidak sudi”. Tapi ada sisi baiknya, bahwa hal ini mendorong saya untuk mulai mebuat billing yang benar – benar bisa digunakan dan gratis.
Yang pasti saya bukanlah seorang programmer, juga bukan produser kaya. Tetapi semoga niat saya ini dikabulkan oleh Tuhan YME, karena Tuhan tidak menyukai orang yang sombong. Mudah – mudahan billing gratis bisa menumbangkan arogansi dan keangkuhan billing komersil yang ada saat ini. Cheers >>> …
2 responses so far ↓
estawar [kaeroni] // February 8, 2008 at 11:17 am
asswrwb
bagus juga artikelnya mas.. masih ingat saya ga mantan operator mas dulu yang gondrong
? tapi sekarang udah ga gondrong lagi loh mas.. udah sukses punya satu anak, panggilannya hafiz
boleh tahu dimana lokasi mas, untuk kita silaturahim ketempat mas ? wasswrwb
cymblot // February 20, 2008 at 5:04 pm
Iya maz, inget dunk. He he, sukses juga. Katanya dulu takut mau nikah, gimana enakan nikah daripada jomblo kan ? …
Hi hi, isi artikel di sini yah biar rame’ …